My photo
We share about anything from beauty tips to recipes, from financial matters to travel spots, and many more. Give us your feedback at momsportal.id@gmail.com
Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

09 February 2012

[Share] Tangan Bayi Bisa Bicara


Oleh: Mila Tantri

Bayi yang belum bisa bicara, punya cara lain mengekspresikan keinginannya. Selain menangis dan tertawa, salah satu caranya adalah lewat gerakan tangan.

Lihatlah kedua tangan mungilnya! Terkadang keduanya dikepalkan atau terbuka dengan santai. Gerakan tangan biasa? Betul, tetapi posisi tangan itu juga bahasa tubuh bayi yang bisa menunjukkan dirinya sedang bahagia, sedang fokus pada sesuatu, atau bahkan sinyal bahwa ia sedang bosan.

Berikut beberapa arti posisi dan gerakan tangan bayi: 

1) Saat jari-jemarinya terbuka lebar, berusaha menggapai sesuatu yang lebih tinggi atau lebih jauh. Tandanya: Bunda, ini menarik sekali. Aku ingin bermain!


Si mungil sedang merasa senang dan terlihat fokus pada sesuatu. Apalagi bila ada mainan atau benda lain dengan warna menarik di dekatnya. Dengan gerakan tangan seperti itu, bayi memberikan sinyal bahwa ia baik-baik saja, namun ia membutuhkan hiburan. Inilah waktunya anda bermain dengannya.

2) Tangannya menggenggam tidak erat, jemari terkulai santai atau terbuka. Kedua lengan sesekali terangkat ke atas, lalu kembali terkulai. Artinya: Aku sedang tidur dan bermimpi. "Tolong jangan ganggu aku!"

Itu yang dikatakan bayi anda, karena dengan posisi tangan seperti ini, dia berada dalam fase tidur yang nyenyak sehingga mungkin sedang bermimpi. Anda bisa memastikannya lewat genggaman kedua tangannya yang tidak begitu erat. Kedua kelopak matanya yang terpejam pun pun sesekali seperti berkedip dan bola matanya bergerak-gerak. Pada saat seperti ini, seringkali bayi terbangun sendiri dari tidur. Tetapi biasanya ia akan melanjutkan tidur lagi, masuk ke fase tidur yang lama dan tenang. Hore! Waktunya untuk anda beristirahat juga \(´▽`)/

3) Kedua tangan ditekuk santai, jari-jari sedikit dikepal, namun tetap terlihat santai. Maknanya: Aku baik-baik saja, Bunda. Maka untuk beberapa menit ke depan anda bisa membaca majalah dengan tenang karena bayi anda akan menyibukkan dirinya sendiri.

Pada saat seperti ini ia sedang merasa puas dan keadaannya baik-baik saja. Itu sebabnya, ia tidak membutuhkan rangsangan apa pun dari orang lain. Sayangnya, kondisi seperti ini biasanya tidak bertahan lama. Karena dengan posisi tangan seperti ini, dalam beberapa menit ke depan bayi akan butuh hiburan.

4) Jari dan tangan terkulai santai di sisi kepala. Bila digendong, tangan tetap tergantung,  jemari terlihat lemas mengepal. Yang ingin dia katakan: Aku lelah, Bunda.

Waktunya tidur, nih, karena posisi tangannya menunjukkan tenaga bayi sudah terkuras habis dan dia butuh istirahat. Semenarik apa pun rangsangan yang diberikan, tidak akan bisa membuat bayi anda merasa segar atau tertarik. Sudahlah, tidurkan saja.

5) Tangan terkepal kuat. Katanya: Aku tidak suka! Bunda, bayi sedang membutuhkan perhatian! Sinyal yang ia kirimkan bisa saja karena ia merasa perutnya sakit atau ia merasa takut pada orang yang belum dikenal atau benda asing. Dalam keadaan itu, kedua tangannya akan terkepal sangat kuat. Segera bantu dia.

Demikian sedikit share tentang gerakan tangan sebagai wujud ekspresi seorang bayi. Semoga dapat membantu anda untuk semakin memahami bayi yang belum bisa bicara untuk mengungkapkan isi hatinya :)



Ilustrasi: http://bit.ly/ztL1WW

04 February 2012

[Share] 1 Lubang 1 Kaki



Oleh Diana Mariana


Satu lubang, 1 kaki. Kata-kata ini sering saya gunakan kepada ketiga anak saya saat mengajarkan mereka cara memakai celana. Mulanya, istilah ini secara tidak sengaja terlontar ketika saya mengajari si sulung. Geregetan sekali rasanya karena dia tidak juga mengerti mana yang kanan dan kiri walau sudah diajarkan berkali-kali.

Ya iya laaaah ga ngerti, lha wong dia masih 2 tahun saat itu umurnya *jitak kepala sendiri* Logikanya, anak seumur dia baru bisa mengerti kata perintah, tapi belum bisa menghapal yang mana kanan dan yang mana kiri. Itu logika saya sendiri lho. Kalau dari segi psikologi anak jujur, saya kurang mengerti. Jadi saya hanya berusaha menyederhanakan kalimat perintahnya agar anak lebih mudah mengerti.

Mungkin karena seringnya saya menggunakan kalimat "1 lubang, 1 kaki" itu akhirnya terekam juga di otak si sulung. Hasilnya? Tadaaaaa.... hanya dalam waktu 1 bulan, anak saya sudah bisa memakai celana sendiri. Lucunya, setiap mau pakai celana, dia selalu bilang, "1 lubang, 1 kaki". Saya yang mendengarnya jadi senyum-senyum sendiri.

Sekarang, si sulung saya sudah berumur 7 tahun, dan memiliki 2 orang adik perempuan. Istilah ini pun, saya teruskan ke adik-adiknya. Alhamdulillah, berhasil juga seperti pada abangnya. Bangga sekali rasanya, kata-kata yang tidak sengaja saya buat bisa berdampak positif terhadap ketiga anak saya.

Sebagai orang tua kita harus bisa sekreatif saat mengajarkan anak sesuatu. Sebisa mungkin cari cara terbaik dan tercepat yang bisa dimengerti anak, karena orangtua lah yang paling mengenal karakter anak. Jangan terlalu terpaku pada buku atau psikolog anak. Untuk bahan referensi boleh, tapi kemudian sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak kita.

Semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat. Mungkin bisa juga dijadikan alternatif cara mengajarkan memakai celana pada anak ;)



02 February 2012

[Share] Keduanya Bisa Maksimal



Oleh: Nova


Menjadi stay at home mom atau working mom, bukanlah pilihan hitam atau putih. Keduanya adalah pilihan yang sama menyenangkan dan membanggakan. Masing-masing pilihan tentu ada keindahan dan tantangannya. Saya dan sahabat ingin berbagi pandangan kami tentang hal tersebut.


Sebagai Ibu yang tinggal di rumah, menurut saya akan lebih maksimal bila :    
-Selalu aktual dengan perkembangan sekitar agar bisa mengetahui perkembangan pendidikan,pengasuhan, dan tumbuh kembang anak. Segala informasi kini just a clik away, jadi tidak ada alasan bila ibu merasa  kurang pergaulan dengan tinggal di rumah. Ibu juga dapat terlibat dalam kegiatan yang diadakan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Pertemuan itu bisa digunakan untuk sharing dan memperoleh masukan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pola asuh,keuangan,dan banyak hal positif lainnya.

-Mengembangkan sisi kreatif misalnya melukis, menulis, membuat kue, dan kegiatan lainnya yang disukai. Kegiatan seperti itu dapat  memenuhi kebutuhan ibu mengaktulisasikan dirinya. Terlebih lagi apabila ternyata dapat menghasilkan income tambahan tanpa harus keluar rumah.

-Mengatur keuangan secara baik, membuat perencanaan- perencanaan dengan cermat, karena sumber pendapatan berasal dari suami, alangkah baiknya apabila bisa mempunyai dana darurat apabila dibutuhkan.

-Mengajari anak agar lebih mandiri, melalui contoh-contoh sederhana seperti mengajarinya makan,toilet training.

- Sesekali memberikan waktu kepada kakek,nenek nya untuk mengajak bermain dan mengenalkan anak kepada orang-orang di lingkungan sekitar.

Menurut teman saya, sebagai Ibu bekerja akan lebih maksimal bila :
-Kompak bersama pasangan, hal ini pastinya dengan suami. Dalam soal pendidikan dan pengasuhan anak selalu melakukan komunikasi untuk mengantisipasi hal-hal darurat di rumah. Misalnya bila anak sakit, siapa yang harus tinggal untuk merawat si kecil.

-Mampu membangun sistem pendukung yang solid. Misalnya, dengan kakek nenek si kecil, pengasuh, supir, dan seterusnya. Support system ini akan membantu ibu untuk dapat bekerja dengan lebih baik dan tenang meninggalkan anak dirumah.

-Selalu menjalin hubungan komunikasi dengan si kecil. Berusaha untuk tetap menghubungi anak lewat telpon misalnya, apabila sedang berjauhan. Meluangkan waktu di malam hari dengan mendengarkan cerita anak, menemani bermain di saat libur.

Kesimpulannya, apapun kondisi kita dengan pilihan yang ada, berusaha berbuat yang terbaik demi keluarga. Lakukan time management (pengaturan waktu) dan delegasikan tugas rumah tangga supaya peran sebagai ibu bisa maksimal.(ije)



Ilustrasi:http://bit.ly/mtley

17 January 2012

[Share] Terlambat Bicara

Oleh: Windy



Tulisan ini saya buat sekedar untuk berbagi pengalaman. Mungkin ada di antara pembaca MP yang memiliki anak dengan masalah yang sama: terlambat bicara.

Banyak orang langsung berpandangan negatif apabila mendengar kata "terapi". Apalagi kalau terapi ini melibatkan anak-anak. Pasti bertanya-tanya, "anaknya special needs yah?". Saya salah satu ibu yang mengalami hal tersebut.

Perkembangan motorik anak pertama saya mengalami keterlambatan bila dibandingkan anak lain seusianya. Baru bisa merangkak setelah usia 10 bulan (sebelumnya hanya bisa ngesot). Mulai bisa berdiri usia 13 bulan dan akhirnya bisa berjalan usia 14 bulan.

Usia 2 tahun 2 bulan ketika diobservasi, masih belum bisa meloncat dan belum ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya bahasa planet yang digunakannya untuk berkomunikasi.

Akhirnya, diputuskan untuk membawa si sulung ke salah satu klinik tumbuh kembang anak. Setelah di observasi, tidak ditemukan masalah medis dan kognitif, hanya speech delay (terlambat bicara). Dokter menyarankan untuk terapi wicara dan terapi okupasi.

Sebelum membawa anak ke pusat terapi, dapat melakukan stimulasi sendiri di rumah, dengan menggunakan berbagai macam mainan.

Stimulasi yang dilakukan pada terapi wicara menggunakan menggunakan beberapa alat, yaitu:
1. Mainan
terapis mengajak bicara si anak sambil bermain. Mainannya bisa mobil, pesawat, atau kereta (karena anak laki-laki). Lalu mulai mengarang cerita, seperti: "Mobil merah jalan ke pasar. Berhenti, ada lampu merah. Lampu sudah hijau, jalan lagi. Yah, mobilnya tabrakan"... dan seterusnya. Cerita disampaikan dengan penekanan kata-kata yang pelan dan jelas.

2. Flash card/buku bergambar
Anak dikenalkan pada jenis-jenis binatang yang terdapat di kartu/buku. Lalu diceritakan tentang ciri-ciri khususnya, seperti: "Ini sapi, warnanya putih, bunyinya mooo, makannya rumput", dan seterusnya.

3. Puzzle
Setelah menyusun puzzle, terapis menceritakan gambar yang terdapat di puzzle tersebut.

4. Alat tiup
Untuk melatih otot bicaranya, anak meniup bubbles, peluit, lilin, atau tissue.

5. Alat tulis
Alat-alat seperti kertas, pensil, gunting dipakai untuk terapi okupasi. Anak dilatih untuk membuat garis lurus dan lingkaran. Lalu mewarnai, menggunting dan menempel kertas (seperti kegiatan TK). Termasuk juga menyobek kertas, mulai dari yang tipis hingga yang tebal. Ini untuk melatih motorik halus anak.

6. Untuk melatih motorik halusnya, terutama jari jemari, maenannya pun maenan sehari2, yg sering diliat di playgroup or TK. Dilatih pake peg board, menjahit/menjelujur, membuat beads, nyusun balok, memasukan benda berbentuk ke wadahnya.

7. Bola
Untuk melatih motorik kasarnya, anak melakukan meempar dan menendang bola.

8. Sedotan
Untuk menstimulasi/latihan gerakan otot mulut/bicara, minum dengan menggunakan sedotan. Terutama minum jus yang agak pekat seperti pepaya atau alpukat. Lalu mulai makan padat agar anak mulai belajar mengunyah, karena makanan yang lembut membuat otot mulut/bicara menjadi "malas".

9. Permainan bertekstur 
Latihan taktil juga diperlukan. Dengan bermain playdoh, pasir, atau mainan apapun yg bertekstur. Berjalan di rumput, batu atau pasir tanpa alas kaki.

Demikian serangkaian alat yang digunakan pada sesi terapi anak sulung saya. Semua peralatannya mudah didapat disekitar kita, sehingga bisa saja dilakukan sendiri di rumah. Lakukan latihan tersebut minimal 15 menit - 1/2 jam sehari, atau bisa di bagi-bagi misalnya 5 menit di pagi hari untuk latihan menulis, nanti 10 menit sebelum tidur untuk membaca cerita. Disesuaikan saja dengan kesibukan kita atau mood si anak..

Saran saya, kalau sudah terapi di rumah tetapi belum ada kemajuan yang signifikan, saat usia 3 tahun bawa saja anaknya ke klinik tumbang (tumbuh kembang) anak. Mungkin saja ada hal-hal lain yang tidak bisa kita deteksi, seperti hiperaktif (ADHD), ADD, hipoaktif, asperger atau hal lainnya yang hanya bisa dilihat dari serangkaian tes yang dilakukan oleh dokter/psikolog.



20 October 2011

[Share] Manfaat Musik Bagi Anak

oleh: Windy

Musik berefek positif bagi perkembangan anak, terutama pada aspek kognitif dan kecerdasan emosi. Selain itu juga dapat menstimulasi otak kanan dan kiri agar dapat bekerja secara seimbang. Sedangkan dengan bergerak, dapat mengasah keterampilan motorik anak. Jadi bergerak sambil diiringi musik dapat memberikan stimulasi yang baik untuk perkembangan anak secara keseluruhan.



Musical wonderland merupakan salah satu program yang ada di Yamaha Music Course. Program ini khusus untuk anak usia 3-4 tahun dan dilakukan secara berkelompok. Satu kelas maksimal 10 anak. Disini anak diperkenalkan dengan suara-suara alat musik, ritme, tempo, melodi dan harmoni. Ada 4 hal yang menjadi perhatian, yaitu: mendengarkan, bernyanyi, merasakan irama dan bermain-main dengan keyboard.


Anak mendengarkan musik/lagu dan ikut bernyanyi. Merasakan irama dengan cara bergerak menari sesuai dengan ritme dan tempo musik. Kemudian anak bermain-main dengan keyboard untuk mendengarkan irama yang dihasilkannya. Setelah selesai program ini, anak diharapkan dapat mengenal tempo dan irama yang dibutuhkan pada saat bermain alat musik.


Kenapa tidak langsung diajarkan alat musik, misalnya keyboard/piano? Karena anak-anak seusia ini masih belum sempurna motorik halusnya, sehingga belum dapat menguasai alat musik dengan baik. Bayangkan apabila mereka harus bermain piano dengan jari-jari kecilnya yang tidak bisa mencapai semua tuts. Bahkan kakinya pun belum bisa mencapai pedal.Jadi jangan berharap setelah program ini selesai anak dapat bermain keyboard/piano dengan baik. Mereka bahkan tidak diperkenalkan dengan do re mi, karena tujuannya hanya untuk memperkenalkan musik dan menstimulasi pendengaran anak terhadap tempo dan irama.


Untuk yang anaknya berusia 3-4 tahun dan berminat dengan musik, program ini bisa menjadi salah satu pertimbangan. Tapi apabila ingin langsung kursus salah satu alat musik, sebaiknya tunggu sampai anak berusia 6 tahun.Selama mengikuti kelas Musical Wonderland, Aidan sering menjadi "pengacau". Gerakannya suka lain sendiri, dan sering terlambat bertepuk tangan, hehehe. Tapi kursus ini cukup lumayan untuk melatihnya fokus dan konsentrasi mendengarkan aba-aba dari guru.




Pada dasarnya, Aidan termasuk anak yang susah diam. Jadi saat diharuskan bergerak mengikuti irama, tentu saja dia riang gembira. Jangan berharap anak seusia Aidan (3 tahun 2 bulan) dapat mengikuti instruksi dengan benar dan tepat. Untuk itulah setiap anak harus didampingi orangtua/pengasuh selama di kelas. Ada saatnya Aidan mogok tidak mau bernyanyi ataupun bergerak. Kalau sudah begitu, tidak akan dipaksa. Tapi begitu di rumah dia akan bersenandung dan menari tanpa diminta :D


Mengikuti kursus musik, hanya salah satu dari banyak cara yang bisa kita terapkan ke anak untuk memperoleh manfaat dari musik.  Cara lain diantaranya adalah dengan mendengarkan musik sejak janin masih dalam kandungan, menyanyikan lagu saat meninabobokan anak, atau mengajaknya menari saat mendengarkan musik di rumah. Apapun cara yang dipilih, pastikan anak melakukan dengan bebas tanpa paksaan;)




Sumber:
http://bit.ly/iQ87wX
http://bit.ly/1YBjOn

[StepbyStep] Bento a la Djogja


oleh: Mila Tantri


Ide membuat Bento ini berawal dari aksi GTM alias Gerakan Tutup Mulut yg gencar dilakukan anak saya, Messi, beberapa bulan lalu. Saya mencari-cari ide untuk menyajikan makanan yang bisa membuat Messi tertarik untuk memakannya.

Setelah mencari informasi dari sana-sini, akhirnya saya putuskan utk mencari tahu tentang cara pembuatan bento yang praktis dan mudah. Jangan harap bentonya seperti yang ada di catering atau restoran, loh. Ini bento dengan bahan-bahan sederhana, memanfaatkan bahan yang ada di lemari es dan alat-alat ada di dapur.Cutter, pinset bento, atau pemotong roti berbentuk panda, cutter untuk sayur atau buah, semua saya tidak punya!! Hanya modal nekat! So, semua ibu juga pasti bisa membuatnya dirumah.

Bento pertama saya berbentuk kucing yang sangat sederhana dan mudah membuatnya. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk membuatnya. Tapi apresiasi si kecil cukup mengejutkan. Bento acakadul buatan saya ludes disantapnya!! Senangnyaaa *joget-joget*

Akhirnya atas dorongan mbak ade, dan teman-teman, muncullah ide untuk mendokumentasikan step  by step pembuatan bento ala saya yang alat dan bahannya sederhana, pembuatannya mudah tapi tetap sedap dipandang mata *pedeabiiis* :D

Berhubung sedang hangat-hangatnya berita tentang The Royal Wedding Ngayogjokarto Hadiningrat, saya pun mencoba membuat bento a la Jogja. Yaitu lelaki ber-blangkon seperti Abdi Dalem Keraton.


Bahan-bahan:
-Siapkan nasi secukupnya
-Wortel yg dipotong bulat/serong
-Brokoli petik perkuntum
-Telor puyuh 3 butir
-Telor dadar diiris tipis
-Selembar rumput laut kering (nori)
-Keju secukupnya
-Tomat 1 buah





Alat-alat:
-Gelas ceper/cetakan nasi berbentuk bulat
-Pisau
-Gunting

-Kotak bekal/ piring makan.





Cara membuat:
*step pertama
Tumis wortel brokoli dan telor puyuh menggunakan butter dan 2 bawang.Sisihkan.
*step kedua


-Cetak nasi berbentuk bulat pipih untuk wajahnya.




-Gunting lembaran nori menyerupai bentuk daun: 2 lembar @3cm dan 1 lembar lagi berbentuk setengah lingkaran, ini untuk blangkonnya

-Gunting nori 2 lembar @2cm berbentuk lingkaran, ini untuk matanya
-Potong keju berbentuk lingkaran kecil @1cm, untuk lapisan mata.
-Belah tomat menjadi 4 bagian jangan sampai putus. Gunakan sebagai
bunga utk menghiasi bento
-Gunting nori membentuk kumis pak raden :D

*step ke 3 :

-Tempelkan nori, telur dadar dan keju yang telah dipotong-

potong tadi ke nasi, sehingga menyerupai wajah lelaki memakai blangkon




-Hiasi  pinggiran nori (bagian blangkon) dengan irisan telur dadar
-Susun aneka sayuran dan bahan lainnya yang telah ditumis dibawahnya
-Tambahkan slada air dibagian atas kepala
-Letakkan tomat disampingnya sebagai hiasan
-Bento a la Djogja siap dihidangkan

Selamat berkreasi membuat bento, moms!